بِسْمِ اللهِ الْوَاسِعِ الْعَلِيْمِ
فَاسْتَمْسِك بِالَّذِي اُوحِيَ اِلَيْكَ ( 43 : 43 )
Saya kutip sekali lagi secara lengkap Qs. 5 : 51, sbb.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [٥:٥١]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ( Qs. 5 : 51 )
Pengajaran ( مَوعِظَةٌ ) dan Petunjuk ( هُدًى ) dari Qs. 5 : 51, yang dapat ditangkap,
a. “ Yang diseru “ oleh Allah swt dalam ayat ini, adalah “ orang-orang yang ber-iman ( الَّذِينَ آمَنُوا )
b. Diseru untuk apa…? Untuk “ Jangan mengambil orang2 Yahudi dan Nasrani menjadi Auliya ( اَوْلِيَاءَ ) Pemimpin ( Teman Setia, orang dekat )
c. Dst
Kalau ada yang bertanya “ kepemimpinan / teman dekat “ dalam “ apa saja “ ? Menurut / dalam bahasa ayat Qs. 5 : 51, ( sepanjang saya dapat tangkap pesan/petunjuk-Nya ), adalah,
a. Dalam KEBER-IMANAN dan MENGAKTUALISASIKAN KEBER-IMANAN, kan jelas lugas, karena beda keyakinan masak akan dijadikan Pemimpin/Teman dekat;
b. Barang siapa ada yang menjadikan “ mereka “ Pemimpin/Teman Setia, ayat tersebut mengingatkan, bahwa “ yang demikian “ oleh Allah swt dikatakan “ sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka ( وَ مَنْ تَوَلَّهُم فَاِنَّهُ مِنهُمْ ) “ ;
c. Bukankah “ larangan “ ini tidak cukup dirasakan KERAS bagi orang2 yang beriman ( الَّذِينَ آمَنُوا ) ?
d. SESUNGGUHNYA orang itu termasuk “ Golongan Mereka “’ SIAPA MEREKA ITU ? Penutup ayat menyatakan “ SUNGGUH ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG2 ZHALIM ( اِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِى الْقَومَ الظَّالِمِينَ ) “
e. Orang itu termasuk “ Golongan Mereka atau Golongan orang2 ZHALIM ( الظَّالِمِينَ ), atau dengan kata lain,
f. Orang beriman itu menjadi orang beriman yang zhalim, dan sungguh Allah swt tidak memberi petunjuk mereka.
Ayat itu, secara harfiah, menurut saya Jelas, Tegas dan Lugas; berbicara “ Kepemimpinan / Teman dekat/setia “, dalam bahasa ayat itu “ dalam KEBERIMANAN dan AKTUALISASI KEBERIMANAN.
Ayat tersebut, menurut saya, secara lahiriyah/tersurat TIDAK BERBICARA SISTEM KETATANEGARAAN dan juga TIDAK KEKHALIFAHAN; secara tersirat, juga tidak mengisyaratkan “ kedua hal ( KETATANEGARAAN dan KEKHALIFAHAN)
Saya berpendapat seluruh Al-Qur’an tidak memberi petunjuk tentang hal tersebut; tapi saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa Al-Qur’an telah dirancang Allah swt untuk dapat “ dilaksanakan/diamalkan/diaktualisasi “ di/dalam SISTEM NEGARA APAPUN ( Sistem Totaliter, Komunis, Sosialis, Liberal, Sekuler, Demokrasi dls ); tanpa harus merubah lebih dahulu “ Sistem “ tersebut
Tidak ada satu ayat-pun dalam Al-Qur’an, bahwa untuk melaksanakan/mengamalkan/menegakan syariah, harus merubah lebih dahulu “ Sistem Negara/Politik “; tidak mungkin dan mubazir, padahal Allah swt “ hendak meringankan manusia, maka Dia ciptakan manusia dalam keadaan Dhaif ( < Qs. 4 : 28 > يُرِيدُ اللهُ اَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَ خُلِقَ الاِنْسَانُ ضَعِيفًا )
Di NKRI ini, dalam Hidup dan Berhidupan Bernegara, Bebangsa dan Bermasyarakat, bagi orang yang ber-iman, seharusnya punya pendirian bahwa PancaSila dan UUD ’45, dalam bahasa Al-Qur’an, disebut sebagai “ Perjanjian ( عَهْدٌ ) “yang harus dipenuhi/dipatuhi, yang memerintahkan untuk “ memenuhi/mentaati “ adalah Allah swt., lihat kembali Qs. 17 : 34 dan Qs. 2 : 177; apakah hal yang demikian itu tidak berarti menjunjung lebih tinggi Perjanjian Bersama “ PancaSila UUD 45 “ bahwa memenuhi dan mematuhi adalah sebagai Perintah Allah swt.
JAKARTA, 1 MARET 2016 / 21 JUMADIL ULA 1437 H
MAJELIS PENGAMALAN AL-QUR’AN ( MPQ )
PENGASUH
muhammad munhari jufri ( mmj )
12-12-1938
05-08-2016
( عَسَى اللهُ اَنْ يَرْحَمَهُ وَ يَغْفِرَ لَهُ )