Mengenang guru-guru Quran dalam kehidupan :
1. Almarhum KH. Kosim Nurseha, anggota BINTAL TNI AD, yg rutin tiap pagi sejak SMP hingga tamat SMA, tahun 1988-1993, mendengarkan taushiyahnya di RKM (Radio Kayu Manis) setiap jam 05.15-05.45 WIB. Dari beliau-lah mendapatkan kecintaan pada ilmu Quran mulai sejak ilmu nahwu dan sharaf, betapa tinggi dan mulianya bahasa Quran. Dari beliau pulalah kecintaan kepada perjuangan para pahlawan, tanpa melihat agamanya apa, yang terpenting harus kita isi dengan kebaikan dan semangat untuk membangun di segala bidang kehidupan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan anugerah dari rahmat Allah swt berupa kemerdekaan sungguh luar biasa, jangan di-sia-siakan.
2. Prof. DR. H. Muhammad Quraish Shihab, MA, melalui pengajian langsung yg diadakan di masjid Sunda Kelapa dan oleh beliau sendiri di lembaganya, PSQ (Pusat Studi Quran), sejak tahun 2003-2005, dan juga melalui buku-bukunya dan ceramah-ceramahnya Tafsir Al-Mishbah di Metro TV tiap bulan Ramadhan. Dari beliau ini saya belajar bagaimana beliau tidak pernah menjelek-jelekkan pihak lain walaupun pihak itu mencaci dan memfitnah habis-habisan. Walaupun yang mencaci itu tidak tahu prestasi apa yang sudah dibuatnya untuk keilmuan Islam, malah kemudian dilanjut dengan melempar tuduhan yang tidak-tidak kepada pak Quraish, sedangkan pak Quraish yang berprestasi mencapai Summa Cum Laude (mengalahkan orang2 Arab itu sendiri di Mesir), sikap Pak Quraish tidak menanggapi karena memang Quran mengajarkan demikian, jauhi dan maafkan saja dia, dan bahkan Nabi yang sudah sedemikian mulia saja dihina, dicaci dan dimaki karena mendobrak pemahaman yang salah.
Dari beliau pulalah saya belajar agar setiap kata yang keluar itu bermakna dan mendalam, bukan sekedar omongan kosong belaka tanpa makna. Dari beliau-lah diajarkan agar kita menghormati segala aturan yang telah disepakati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Untuk dapat mengetahui sebuah tafsir ayat Quran saya mencukupkan diri membaca tafsir beliau, karena saya yakin beliau telah menyaringnya dari berbagai buku tafsir dan beliau mengambil pendapat yang terbaik di antaranya, jadi saya bisa menghemat waktu dalam memahami Quran. Walaupun beliau ahli tafsir Quran, tapi tidak ingin memonopoli penafsiran hanya dari beliau semata. Beliau selalu mengajak untuk merenungi dan memahami ayat2 Quran karena ayat2 Quran itu ibarat berlian, mempunyai keindahan tersendiri di setiap sudutnya, agar kita dapat mengambil hikmah-hikmah ataupun pelajaran-pelajaran baru dari ayat2 Quran tersebut, namun harus berdasarkan kaidah2 tafsir yg beliau bukukan dalam buku "Kaidah Tafsir".
3. Cak Nurhadi, melalui ceramah2nya, saya belajar agar mengkaitkan semua ayat-ayat Quran menjadi sebuah konsep untuk diamalkan. Saya belajar dari beliau, bahwa semua ayat itu saling kait dan ikatannya sangat kuat, sehingga lebih komprehensif dalam mencari kandungan makna kata tertentu dalam Quran. Cak Nurhadi punya keunikan di pecinya selalu dipasang logo Garuda Pancasila. Dan uniknya ditanya permasalahan apapun, selalu ayat Quran dulu yang ditunjukkan, lengkap dengan nomor surat dan nomor ayatNya. Saya belajar bagaimana menjadikan Quran sebagai imam.
4. Almarhum H. Munhari bin Djufri, Pensiunan Kolonel TNI AL angkatan 1956, beliau adalah santri yang berhasil masuk ke TNI AL. Guru saya ini yang saya dapat berinteraksi setiap malam, face-to-face, selama tiga tahun terakhir sampai menjelang wafatnya. Berbeda dengan tiga guru besar Quran sebelumnya yang merupakan tokoh bangsa, saya hanya bisa belajar dari jarak jauh. Namun dengan guru terakhir ini, saya bisa berdialog tiap malam. Dari beliau-lah saya belajar bagaimana memegang teguh kepada Quran. Semua harus dibaca dengan Quran, disikapi dengan amalan yang sesuai dengan Quran. Quran demikian tingginya, yang nama-nama Allah saja disematkan kepada nama-nama Quran, seperti Al Karim, Al Aziz, Al Haqq, dsb. Menurut beliau, Quran juga memberikan alat ukur ketaqwaan, sehingga jangan sampai kita tidak mengetahui posisi diri apakah sedang menuju ke ridhaNya Allah atau sedang lalai sehingga jauh dari ridhaNya Allah. Pengalaman beliau memimpin kapal perang semasa tugasnya, banyak memberikan poin-poin apa saja yang harus diperhatikan agar kapal kita tidak salah jalur. Dari beliau-lah dicetuskan program H3Q (Hari-Hari Hidup Qurani). Dari beliaulah saya diberitahu bahwa menjunjung tinggi Quran sebagai Hablum minalllah, harus juga menjunjung tinggi Pancasila, UUD 1945, Lambang Negara, Lagu Kebangsaan Negara, semua peraturan, etika, norma, adat sebagai hablum minannas.
Tidak boleh timpang salah satu karena itu nanti akan dihinakan oleh Allah swt (QS Ali Imran 3:112).
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ [٣:١١٢]
Mereka diliputi KEHINAAN di mana saja mereka berada, KECUALI jika mereka berpegang kepada TALI ALLAH (QURAN) dan TALI (perjanjian) DENGAN MANUSIA, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. QS Ali Imran [3]:112
Semua guru-guru Quran mengajarkan Quran dengan kecintaan yang sangat besar selain ilmu, sehingga timbul kecintaan pada ajaran Quran, namun juga menumbuhkan kecintaan pada Indonesia, semua guru mengajarkan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia, diantaranya Pancasila, UUD 1945, Bendera Merah Putih, Lambang Negara, Lagu Kebangsaan Negara dst. Para guru menunjukkan kecintaannya pada budaya bangsa misalnya dengan selalu menggunakan PECI dan BATIK, tidak memakai jubah kearab-araban, walaupun mereka ahli dalam berbahasa arab bahkan ada yang keturunan Arab dan Nabi Muhammad saw, yaitu Prof. DR. Habib Quraish Shihab, namun nama Habibnya tidak beliau gunakan karena beliau merasa belum pantas untuk menyandangnya, karena Habib haruslah orang yg paling bertaqwa / berakhlaq mulia di antara yang lain. Betapa merendahnya beliau.
Menjunjung tinggi Quran (dengan memahami, mengamalkan, menyebarkan) tapi juga hormat pada Bendera Merah Putih. Menghafal surat-surat pendek di Al Quran tapi juga menghafal serta menyanyikan Lagu-lagu Kebangsaan Indonesia. Melaksanakan shalat tapi juga memenuhi peraturan lalu lintas, QS 5:1, dan lain seterusnya.
Taat pada Allah dan taat kpd RasulNya, tapi juga mendukung program2 Pemerintah, bukan menghambat program pemerintah.
Tidak boleh mengabaikan salah satu dari Hablumminallah dan Hablumminannas.
Semua itu, guru2 Quran mengajarkan demikian berdasarkan QS 3:112. Kalau ada yg mengatakan itu syirik, berarti dia belum paham kata syirik dalam Quran.
Semoga Allah swt melimpahkan karunia dan rahmatNya yang maha luar biasa kepada mereka para guru beserta keluarganya, baik yang masih hidup maupun dua guru yang sudah mendahului.
Konsep-konsep Quran dan Indonesia yang pernah didapat dari Guru-guru sangat layak untuk diteruskan kepada yang lain.