فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣:١٥٩]
""Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." QS Ali Imran [3]:159.
----
Mau mendapatkan rahmat dari Allah swt sebagaimana yang pernah dicurahkan kepada junjungan Nabi kita, Muhammad saw ? Maka amalkan QS Ali Imran [3]:159
Qs 3:159, rahmat Allah akan tercurah bila kita mnjaga sikap lemah lembut, memaafkan dan mngampuni org lain, selalu bermusyawarah segala urusan serta kuat berazzam mnjalankan itu semua.
Menurut pemahaman saya, semua itu dilaksanakan dari sejak hati, memaafkan harus dari dalam hati, memohonkan ampun kepada orang lain berangkat sejak dari hati, dari yang paling dalam, tidak ada toleransi utk kasar walo dalam hati (memendam marah, jengkel, dongkol sekalipun), lemah lembut juga berangkat sejak dari hati, kesediaan untuk bermusyawah (mendengarkan pendapat, saran, masukan, pertimbangan dan juga sekaligus menyampaikan saran/pandangan) harus dilakukan dengan lembah lembut, tidak boleh saling merasa menguasai satu sama lain, itu prinsip dasar dan utama dari TEAMING atau TEAM WORK. Semuanya harus dilakukan dengan penuh kegigihan yang sangat kuat (Azzam), insya Allah rahmat Allah akan tercurah. Kalau rahmat Allah tercurah, tidak ada yg dpt menghalanginya. Penghalang datangnya rahmat Allah hanya disebabkan kita sendiri yang melanggar QuranNya, salah satunya QS 3:159 itu.
Salah satu rahmat Allah mulai lenyap, diantaranya "mereka meninggalkan kamu", mereka itu bisa jadi klien, customer, partner dan sebagainya.
Selama saya pelajari Al Quran, tidak ada toleransi untuk marah, jangankan marah yang terumbar, dongkol saja harus betul-betul ditahan dengan kuat secara profesional.
Marah yang diumbar baik yang terucapkan dalam kata2 apalagi dengan perbuatan itu namanya GHADHAB, sedangkan marah yang dipendam dalam hati itu namanya GHAIZH.
GHAIZH atau dongkol harus disingkirkan dan dibuang atau dilupakan apalagi GHADHAB.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ [٣:١٣٣]
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [٣:١٣٤]
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan GHAIZH (dongkol, jengkel) dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Mottonya Orang yg Bertaqwa : "Ketemu manusia, segera maafkan, beri ampun, tahan gondok dg mantap/profesional, sabar yg mantap"
Tambahan ilustrasi, bagaimana perasaan bagi yang sudah mempunyai anak. Tiba-tiba anaknya yg dicintai, dimuliakan dimarahi habis-habisan sama orang lain di depan mata sendiri walau anak kita ada berbuat salah ?
Perlu kita sadari, cintaNya Allah kepada satu orang manusiapun jauh lebih besar dari cinta seluruh orang tua kepada anak-anaknya.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا [١٧:٧٠]
Dan sesungguhnya telah Kami MULIAKAN anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Motto utk bisa tidak marah, atau memuntahkan pendapat agar tidak pakai emosi : "Kalau sampai saya marah, saya marah di depan Allah swt, Ingat di belakang dia ada Allah swt yg Maha Melihat, yang Maha menyayanginya, dan yang Maha mengampuninya".
Emosi itu termasuk HAWA, yg harus dan sangat dihindari. Wallahu a'lam. Memaafkan itu levelnya juga sangat profesional dan ahli. 'AAFIINA 'anin naas".
Ustadz Dhanu sering membantu menyembuhkan penyakit (karena Allah yg menyembuhkan) dan semua penyakit disebabkan karena emosi, mengobatinya adalah minta ampun kepada Allah swt dengan teramat sangat.
Nabi Muhammad saw menurut sirah tidak pernah sakit bahkan mungkin hanya 2 kali, yg setahu saya beliau sakit menjelang beliau akan wafat.
Perintah Musyawarah adalah wajib, perintah Allah yang paling mulia dan benar, namun karena dia atau mereka lebih memilih ego atau Hawa nya karena merasa ego atau Hawanya yang lebih benar dan lebih mulia dan telah menjadi tuhannya maka perintah Allah utk bermusyawarah diabaikannya.
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا [٢٥:٤٣]
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa-nya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
Tentang musyawarah, Prof. Quraish sangat bagus dalam mengupasnya, saya coba rangkum :
1. Musyarawarah itu dilakukan adalah untuk mengambil yang baik, bagaikans seorang lebah hanya mengambil yang baik. Musyawarah itu berasalah dari kata "syawara" yg artinya "mengeluarkan madu dari seorang lebah". Makna ini berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang diambil/dikeluarkan dari yang lain termasuk pendapat, saran dan sebagainya. Karena itu perintah bermusyawarah itu hendaknya yang dilakukan adalah mendengarkan dulu, bukan langsung memutuskan.
2. Karena itu sebelum musyawarah, tiga yang harus ada dalam jiwa masing-masing individu yang bermusyawarah, yaitu berlaku lemah-lembut, tidak kasar dan tidak berhati keras.
3. Bermusyawarah itu harus mempersiapkan mental/jiwa untuk bersedia memberi maaf, karena boleh jadi ketika melakukan musyawarah terjadi perbedaan pendapat sehingga keluar kata yang menyinggung, dan bila mampir ke hati akan mengeruhkan pikiran bahkan bisa mengubah musyawarah menjadi pertengkaran.
demikian dari Prof. Quraish Shihab tentang Musyawarah.
tambahan dari saya -> 4. semua dilakukan harus didorong oleh motivasi memenuhi seruan Ilahi, ingin mendapat rahmat Allah melalui caraNya, yaitu bermusyawarah, saling memberikan permasalahan apa yang sedang dihadapi dan bagaimana solusi yang terbaik yang dapat dilakukan bersama. Lebah itu menjadi contoh dari Nabi saw utk seorang mukmin, karena lebah sangat selektif dalam memilih hanya yang baik yang diambil, memiliki kerjasama yang kompak dan mengagumkan, semuanya bekerja, semuanya memenuhi kewajibannya, tidak ada yg otoriter,
Dalam Quran, QS 3:159 tersebut, tidak disebutkan kepada siapa, maka makna umumnya adalah musyawarah berlaku utk semua nya, walaupun terhadap musuh (sehingga menghasilkan perjanjian perdamaian). Kalau kepada kompetitor berarti utk berkompetisi yang sehat. begitu kira2.
Syarat2 yang diungkapkan pada QS 3:159, tidak berhati kasar, berlemah lembut, memaafkan, memberi ampun, meminta saran, mendengarkan pendapat (bermusyawarah) dan berazzam adalah pondasi dasar atau kunci dari Allah swt untuk mendpt rahmatNya, dan itu pula pondasi atau kunci untuk TEAMING / TEAM WORK yang kuat dan mengagumkan sebagaimana lebah.
إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ [٨:٦٥]
Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. QS Al Anfaal [8]:65
Musyawarah dan isyarat itu berasal dari akar kata yg sama, syawara. Saling memberi saran, pendapat walopun sekecil isyarat.
demikian, wallahu A'lam
---
Hari-Hari Hidup Qurani (H3Q)