بِسْمِ اللهِ الْوَاسِعِ الْعَلِيْمِ
فَا سْتَمْسِكْ بِالَّذِي اُوحِيَ اِلَيْكَ اِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
MAJELIS 3356, adalah sandi dari suatu “ MAJELIS “ yang BUKAN majelis sebagaimana kita kenal, sedangkan angka “ 3356 “ merujuk pada SURAT ke 33, adapun angka “ 56 “ menunjuk pada AYAT ke 56 dari surat ke 33 tersebut; jadi dengan “ MAJELIS 3356 “ dimaksudkan “ institusiasi “ penegasan Allah swt dalam Qs. Al-Ahzab / 33 : 56 ; dengan “ institusiasi “ Qs. 33 : 56, diharapkan dapat membangkitkan KESADARAN ummat ketika menyambut / memenuhi PERINTAH Allah swt yang dinyatakan pada Qs. 33 : 56.
اِنَّ اللهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan yang sempurna kepadanya.
Ada dua hal penting yang dapat ditangkap dari penegasan Allah swt dalam ayat tersebut, yaitu :
Pertama : penegasan bahwa Allah swt – Yang milik-Nya kerajaan langit dan bumi dan apa saja yang ada ( للهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلاِرْضِ وَ مَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ) diantara keduanya, Dia selalu menciptakan apa yang Dia kehendaki, dan Allah swt Mahakuasa atas segala sesuatu ( Qs. 5 : 17 ); berserta para Malaikat-Nya, yang tidak pernah durhaka kepada Allah swt terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka ( لاَ يَعْصُونَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ) serta terus-menerus dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan ( Qs. 66 : 6 ), para Malaikat yang demikian itu, niscaya mereka adalah makhluk-makhluk yang suci lagi mulia; tidak henti-hentinya walau sesaatpun, selalu bershalawat untuk Nabi Muhammad saw.
Maka “ Majelis 3356 “ adalah institusiasi atau simbolisasi ” pernyataan atau bahkan penegasan ” Allah swt dalam Qs. 33 : 56, ada “ Majelis yang sedang ber-Jamaah “, yang anggotanya makhluk-makhluk suci lagi mulia dan di-Pimpin atau di-Imami Sendiri oleh Allah swt; yang selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad saw; bila demikian- sungguh Allah swt Rabb-ku yang selalu bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku ( اِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِيْنِ ), ridha bila dinyatakan bahwa “ Majelis 3356 “ adalah “ Majelis yang termulia di jagad raya, dunia – akhirat “.
Kedua. Seruan / perintah kepada orang-orang yang ber-iman “ hai orang – orang yang ber-iman, bershalawatlah kamu untuknya ( Nabi saw ) dan ucapkanlah salam penghormatan yang sempurna kepadanya.”
Al-hamdu li Allah, segala puji bagi Allah swt yang mempunyai fadhilah yang dicurahkan kepada orang-orang yang ber-iman ( اللهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤمِنِيْنَ ), begitu penegasan Allah swt dalam Qs. 3 :152; Allah swt yang telah memerintahkan untuk bershalawat Nabi saw, KAPAN dan DIMANA SAJA.
KAPAN SAJA, siang hari dan/atau malam hari; pagi hari dan/atau sore hari; setiap saat sepanjang hidup; dan DIMANA SAJA, di Negara yang sistem Pemerintahannya SEKULER, KAPITALIS, KOMUNIS, SOSIALIS, AGAMIS ataupun DEMOKRATIS; orang-orang yang ber-iman ( الْمُؤمِنِيْنَ ), hendaknya selalu bershalawat kepada Nabi saw.
Harus disadari dengan sesadar-sadarnya dan diyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa ketika bershalawat sesungguhnya sedang ” berjamaah “ dengan Allah swt dan para Malaikat-Nya yang sedang bershalwat kepada Nabi saw; atau singkatnya sedang berjamaah dalam “ Majelis 3356 “.
Bukankah hal tersebut, benar-benar kesempatan yang tak terkirakan nilainya, yang diberikan Allah swt kepada para Mu’minina ( الْمُؤمِنِيْنَ ); atau yang dalam bahasa Qs. 8 : 29 disebut “ fadhilah yang agung ( وَ اللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ) “.
Bahkan orang-orang Mu’minun ( الْمُؤمِنُونَ ), boleh jadi mempunyai kemungkinan untuk menjadi “ anggota “ Majelis 3356, tergantung dari :
a. intentensitas bershalawat kepada Nabi saw; makin tinggi intensitas ( banyak waktu yang digunakan ) bershalawat, maka makin lama dia berjamaah dengan “ Majelis 3356 “.
b. Apalagi kalau dia / mu’min tersebut selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan pernah durhaka kepada Allah swt terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka ( لاَ يَعْصُونَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ) serta terus-menerus dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan ( Qs.66:6 ).
c. Atau orang Mu’min tersebut selalu dalam keadaan sebagaimana disebutkan pada Qs. 16 : 50 :
يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).
d. Kemungkinan orang Mu’min diterima sebagai ” anggota ” Majelis 3356, ini bukan berarti bahwa mu’min tersebut menjadi Malaikat, dia tetap manusia sebagaimana fitrahnya; tetapi ber-iman dengan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh sebagaimana disebut pada titik a, b dan c tersebut, dapat dipercaya dan diyakini bahwa orang Mu’min bisa diterima menjadi ” anggota Majelis 3356 ”, mengingat pernah suatu ketika dalam hidup orang Mu’min, Allah swt, Rabb kamu ( رَبُّكَ ) memerintahkan kepada para Malaikat untuk sujud kepadanya; perhatikan informasi yang tidak bisa diragukan kebenarannya dalam Qs.15 : 28, 29, berikut ini,
وَ اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ اِنِّى خَالِقٌ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنَ . فَاِذَا سَوَّيْتُهُ وَ نَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِى فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ
Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia ( بَشَرًا ) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu ( سَاجِدِيْنَ ) kepadanya dengan bersujud.
.e. Perhatikan pula informasi dari ‘Arsy yang terdapat pada Qs. Shad / 38 : 72, 73
f. Bahkan perintah Allah swt kepada para Malaikat-Nya sebagaimana tersebut dalam Qs. 15 : 28, 29 dan Qs. 38 : 72, 73 , hingga sekarang dan seterusnya sampai kapan yang hanya Allah swt yang mengetahuinya, masih tetap berlangsung.
Maka, para Ikhwan PPQ (Program Pengamalan Quran), gunakan/manfaatkan sebaik-baik-nya dengan penuh ke-imanan, keyakinan serta kesadaran, peluang yang Allah swt berikan sebagaimana ditetapkan dalam Qs. 33 : 56; sekali-kali ” janganlah kamu termasuk orang-orang yang bodoh ( ... فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ ), begitu peringatan Allah swt dalam Qs. 6 : 35 ; dan jangan sampai termasuk orang yang diadukan Rasulullah saw sebagaimana terdapat pada Qs. Al-Furqan / 25 : 30,
وَ قَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ اِنِّ قَوْمِى اتَّخَذُوا هَاذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُوْرًا
Berkatalah Rasul: "Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak ( مَهْجُوْرًا ) diacuhkan".
Maka sangat dianjurkan kepada para Ikhwan PPQ, hendaknya ” Shalawat kepada Nabi saw ” atau sebut ” Prgram Pengamalan Qur’ani ( PPQ 3356 ) ” dijadikan sebagai salah satu PPQ UNGGULAN.
وَ اتَّقِيْنَ اللهَ اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدًا
dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.
Bila pengamalan Qs. 33 : 56 dikaitkan dengan ” penutup ” ayat sebelumnya yaitu Qs. 33 : 55, sebagaimana dikutip, mengisyaratkan bahwa pengamalan Qs. 33 : 56 termasuk dalam kegiatan ” bertakwa ”; dan kalau Qs. 33 : 55, menegaskan bahwa ” sesungguhnya Allah swt menyaksikan segala sesuatu ( اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدًا ) ” maka “ pengamalannya dan siapa pengamalnya ” juga dalam persaksian Allah swt.
Kapan saja, Allah swt menyaksikan segala sesuatu, mengisyaratkan bahwa segala sesuatu juga menyaksikan Allah swt; maka kita ( saya dan Anda ) yang tercakup dalam kata ” sesuatu ( شَيْءٌ ) ”, seharusnya juga selalu menyaksikan Allah swt; akan tetapi bila kita tidak dapat menyaksikan Allah swt, hendaklah selalu ” sadar ” bahwa kita dalam persaksian – Nya, dan sekali-kali jangan sampai kita ” lalai ( غَافِلِيْنَ ) ” akan hal ini, sebagaimana Allah swt, Rabb-kalian telah memperingatan pada awal persaksian ( Qs. 7 : 172 ).
Dengan demikian, hendaknya selalu disadari bahwa sejak persaksian yang pertama ( Qs. 7 : 172 ), secara terus-menerus kita selalu dalam persaksian Allah swt.
Peristiwa Persaksian ( PP ), adalah suatu peristiwa yang terjadi ketika ” Yang Menyaksikan atau sebut Subyek ” dan ” Yang Disaksikan atau Obyek ”, pada saat yang bersamaan satu sama lain, KAPAN SAJA dan DIMANA SAJA Peristiwa Persaksian itu terjadi, masing-masing sama-sama menyaksikan satu sama lain.
Peristiwa Persaksian ( PP ) itu dapat di-ilustrasikan dengan peristiwa ketika bercermin; ” Kita atau Yang bercermin / Subyek ”, sementara ” Yang didalam cermin atau Bayangan / Obyek ”. Ketika ” Subyek ” menggerakan tubuhnya atau anggota badannya, maka pada saat yang bersamaan ” Obyek ” menggerakan tubuh atau anggota badannya persis seperti yang dilakukan ” Subyek ”.
Bila demikian, sejak Peristiwa Persaksian Pertama ( 3P ), sebagaimana diungkapkan Allah swt dalam Qs. 7 : 172, sesungguhnya kita ( saya dan Anda ) harus selalu ” sadar penuh ( iman / percaya dan yakin ) ” bahwa kita berada dalam suasana PP ( Peristiwa Persaksian ), dimana Allh swt berada pada posisi ” Subyek ”, sedangkan kita pada posisi ” Obyek ”.
Konsekwensinya, kita sebagai ” Obyek ( Bayangan dalam Cermin / BdC ) ”, segala gerak-geriknya, segala macam dan bentuk aktivitasnya adalah harus merupakan ” respon ” dari ” kehendak Allah swt ”; dan seluruh ” kehendak-Nya ” yang harus direspon oleh ” Kita / Manusia ” sampai ajal tiba, semuanya tercantum dalam al – Qur’an; demikian itulah konsekwensi PP antara kita dengan Allah swt. Itulah penutup Qs. 33 : 55 ( اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ) yang segera disambung dengan Qs. 33 : 56, yang kemudian kita jadikan PPQ Unggulan dalam Hari-Hari Hidup Qur’ani ( H3-Q ), sebagai bentuk penjabaran konkrit dari Program Pengamalan al-Qur’an ( PPQ )
Qs. Al-Ahzab / 33 : 57 dan 58
اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنًا . وَ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَ اِثْمًا مُّبِيْنًا
Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti ( يُؤذُونَ ) Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti ( يُؤذُونَ ) orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
Dua ayat tersebut, Qs. 33 : 57 dan 58, berbicara tentang ” orang-orang yang menyakiti ” Allah swt dan Rasul-Nya, dan ” orang-orang yang menyakiti ” orang-orang Mu’min dan Mu’minat.
Orang yang menyakiti Allah swt dan Rasul-Nya saw ( Qs. 33 : 57 ), mereka itu diantaranya adalah :
1. Bila dihubungkan dengan penutup Qs. 33 : 55 ( وَاتَّقِيْنَ اللهَ ), maka mereka yang menyakiti Allah swt dan Rasul-Nya saw, adalah apabila dikatakan kepadanya ’ ” bertakwalah kepada Allah, ” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa, .. ( Qs. 2 : 206 )
وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِاْلاِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَ لَبِئْسَ الْمِهَادُ
Dan apabila dikatakan kepadanya: "bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa, maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam, dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. ( Qs. 2 : 206 )
2. Masih dikaitkan dengan penutup Qs. 33 : 55 ( اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدًا ), adalah “ dia yang bersaksi kepada Allah swt mengenai isi qalbunya, padahal dia penentang yang paling keras “, perhatikan pernyataan-Nya dalam Qs. 2 : 204, berikut ini,
وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِى الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَ يُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِى قَلْبِهِ وَ هُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi qalbu-nya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.
3. Termasuk ” orang yang menyakiti ” Allah swt dan Rasul-Nya saw, adalah mereka yang tidak mau atau enggan menyambut atau memenuhi perintah Allah swt dalam Qs. 33 : 56, yaitu bershalawat kepada Nabi saw; padahal sungguh Allah swt dan para Malaikat-Nya bershalawat kepadanya, bahkan sejak sebelum Nabi saw dihadirkan didunia hingga sekarang dan seterusnya.
4. Orang-orang yang menyakiti Mu’min dan Mu’minat ( Qs. 33 : 58 ), padahal sesungguhnya ” Allah swt adalah Pelindung orang-orang yang ber-iman ( وَ اللهُ وَلِيُّ الْمُؤمِنِيْنَ ) “, begitu pernyataan Allah swt dalam Qs. 3 : 68; maka orang yang menyakiti Mu’min dan Mu’minat, sungguh mereka termasuk orang yang menyakiti Pelindungnya ( Allah swt )
Orang-orang yang menyakiti orang-orang Mu’min dan Mu’minat, diantaranya :
وَلَوْ ءَامَنَ اَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ المُؤْمِنُوْنَ وَ اَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ . لَنْ يَضُرُّوكُمْ اِلاَّ اَذًى
Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik ( الْفَاسِقُونَ ). Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja. ( Qs. 3 : 110, 111 )
لَتُبْلَوُنَّ فِى اَمْوَالِكُمْ وَ اَنْفُسِكُمْ وَ لَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوا اَذًا كَثِيْرًا وَ اِنْ تَصْبِرُوا وَ تَتَّقُوا فَاِنَّ ذَالِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu, dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan ( اَشْرَكُوا ) Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati; jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. ( Qs. 3 : 186 )
Dua ayat tersebut mengungkapkan bahwa banyak gangguan celaan dan yang menyakitkan hati dari ” orang-orang fasik (الْفَاسِقُونَ ) ” dan dari ”orang-orang musyrik ( اَشْرَكُوا ) ”
يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضًآءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْ وَ مَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ اَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلآيَاتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu, mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi; sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. ( Qs. 3 : 118 )
Buatlah Majelis 3356 dimanapun Ikhwan berada, ajak 2-3 orang atau anggota keluarganya yang tercinta untuk bershalawat bersama, atau bergabunglah dengan majelis-majelis yang di dalamnya dikumandangkan shalawat
JAKARTA,6 MEI 2013 / 25 JUMADIL TSANI 1434 H
MAJELIS PENGAMALAN AL-QUR’AN ( MPQ )
muhammad munhari jufri ( mmj )
( ‘asaa Allahu an yarhamahu wa yaghfira lahu )