Pada ayat QS 46:9 itu, Rasul disuruh mengatakan : "aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu" apalagi masalah jamin menjaminkan surgaNya Allah.
Karena Rasulullah tidak mengetahui namun sangat mengerti akan konsekuensi yang akan terjadi, maka Rasulullah sangatlah berjuang untuk berada di jalanNya, sangat gigih untuk mendapatkan ridhaNya, terus menerus beristighfar setiap hari 100 kali. Yang artinya beliau memberikan contoh tauladan agar berjuang mati-matian dalam meraih ridhaNya dan surgaNya. Kalau Rasulullah bisa, maka kita semua juga bisa melakukan hal itu. Itulah arti TAULADAN (USWATUN HASANAH).
Jadi tidak ada lagi perkataan : "Ya dia kan Rasul, yang sudah pasti dijamin masuk surga". Jangan lagi berkata seperti itu. Rasul dengan kita sama, bedanya beliau mendapat wahyu langsung sedangkan kita sudah berupa Kitab yang tinggal kita ikuti.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [١٨:١١٠]
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". QS Al Kahfi [18}:110
Jadi yang mengerti bahwa Hidup ini adalah Ujian dari Allah swt, yang hasilnya baru akan tahu masing-masing nanti di akhirat, BUKAN di dunia ini, Di dunia ini tidak ada jamin-menjaminkan surga bagi si A, si B ataupun si C.
2. Allah akan memberitahukan dan menanyakan status amalan tiap manusia.
يُنَبَّأُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ [٧٥:١٣]
“Pada hari itu (Qiyamah) diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” QS Al Qiyamah [75]:13
Apakah Rasul termasuk manusia ? Iya, jelas. Maka beliau pun akan mendapatkan keterangan apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya, walaupun kita yakin Rasul telah memenuhi semua perintah Allah swt, tapi sekali lagi hanya ALLAH yang tahu, dan kita tidak boleh mendahului Allah swt. Jadi TIDAK BENAR kalau Rasul sudah dijaminkan masuk Surga sehingga tidak diperiksa / ditanyakan pula.
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ
قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ
سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ
قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا
فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ [٥:١١٦]
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa
putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku
dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah
mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". QS Al Maidah [5]:116
Studi kasus Nabi Isa as pada ayat QS 5:116 di atas, sebagai mauizhah/pelajaran bahwa setiap Rasul akan ditanyakan / dimintai pertanggungjawaban.
Hidup adalah ujian. Apakah pantas ketika sedang berada dalam ujian, kita yang sama-sama peserta ujian berteriak si A itu nilainya dijamin pasti jelek dan si B dijamin pasti bagus ? Sangat tidak pantas,.
Begitu juga dengan kehidupan dunia yang masa ujiannya lebih panjang dari sejak lahir sampai akhir hayatnya masing-masing, apakah pantas kita yg masih sama-sama peserta ujian berteriak pasti si A itu kafir dan masuk neraka walau secara kasat mata si A beragama di luar Islam, dan si B akan masuk ke Surga ?
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [٦٧:٢]
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” QS Al Mulk [67]:2
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا
يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ [٣:١٤٢]
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan
belum nyata orang-orang yang sabar. QS Ali Imran [3]:142
Rasulullah termasuk kata "kamu" di ayat-ayat tersebut. Jadi Rasul juga diuji oleh Allah swt. Jangankan Rasulullah, Nabi Ibrahim as (Bapaknya Para Nabi dan Rasul) diuji oleh Allah swt.
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي
جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ [٢:١٢٤]
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya
dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". QS Al Baqarah 2:124
Seandainya Rasulullah telah dijaminkan masuk ke Syurga, menurut penulis, sama saja MENGECILKAN arti JIHAD dan SABAR yang Rasulullah telah perjuangkan dan ajarkan untuk dijadikan suri tauladan kepada umatnya.
3. Hanya Allah swt yang berhak menjadi pengawas peserta ujian hidup manusia.
Yang hanya tahu tentang status "amalan / jawaban" atas ujian tiap manusia adalah pengawas dan penilai ujian nantinya, BUKAN sesama peserta ujian.
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ [٤٢:٦]
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.” QS Asy Syuura [42]:6
Kamu (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka, sehingga harus memantau amalan-amalan mereka, usil dan menilai amalan mereka. Karena itu memang bukan hakmu, melainkan hakNya Allah swt. Itu saja kepada Rasul, Allah demikian tegasnya, apalagi terhadap kita.
Rasulullah saja TIDAK atau BUKAN orang yang mengawasi orang lain, apatah lagi MENILAI dan LAYAK untuk mendapatkan surgaNya Allah swt atau masuk ke neraka.
4. Hanya Allah sebagai penilai atau memberikan keputusan atas rekap amalan tiap manusia.
اللَّهُ
يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
﴿الحج:
٦٩﴾
Allah
akan menilai/mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu
selalu berselisih padanya. QS Al Hajj [22]: 69
Karena itu janganlah suka MENDAHULUI KEPUTUSAN ALLAH baik penilaian keimanan dan ketaqwaan seseorang apalagi nasibnya nanti di akhirat. Hal itu dinilai perbuatan syirik / mempersekutukan Allah.