Anda bisa saksikan videonya pada link ini.
Dan berikut ini adalah narasinya :
Kali ini kita akan bahas "Hidup adalah Ujian atau Bala.
Kajian "Hidup adalah Ujian atau Bala" merupakan bagian dari kurikulum H3Q (Hari-Hari Hidup Qurani). Yang sebelumnya telah dibahas cukup panjang lebar mengenai Pentingnya Quran, yang sebagian isi Quran atau ayat2Nya tersebut menjelaskan betapa Allah sangat menaruh perhatian yang sangat agar manusia sadar betapa pentingnya Quran, bisa lihat di video pada link Pentingnya Quran.
Sampai-sampai Allah menamakan Quran dengan namaNya, seperti Al-Haqq adalah nama Allah yang juga disematkan Allah kepada Quran, Al-Hakiim adalah nama Allah yang juga untuk nama Quran, Al-Aziiz, nama Allah dan Quran, dan seterusnya.
Saudara-saudara bisa melihat videonya pada Nama-nama Allah dan Quran ini.
Sesuai dengan nama dan fokus kurikulum ini "Hari-Hari Hidup Qurani", sekarang kita akan bahas tentang "Hidup" itu sendiri, yang sedang kita semua jalani saat ini, di dunia ini.
Baik, kita akan bahas tentang kajian "Hidup adalah Ujian atau Bala (dalam bahasa Arab Quran).".
Dalam surat Al-Baqarah, surat ke-2 ayat 28, dikatakan
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٨]
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
Dalam ayat tersebut, diberitahu oleh Allah bahwa kita saat ini sedang dihidupkan olehNya dalam kehidupan di dunia ini yang sebelumnya kita mati. Kemudian akan dimatikan dan dihidupkan kembali pada kehidupan yang berbeda, lalu setelah itu kita akan kembali kepadaNya. Allah mengingatkan agar kita jangan sampai hanya menyadari bahwa hidup hanya pada saat ini, saat sekarang, bahwa nanti ada kehidupan lagi setelah ini. Sehingga diharapkan agar kita berorientasi pada kehidupan nanti dan juga berorientasi pada Allah.
Lalu bagaimana seharusnya dan apa sesungguhnya kehidupan kita saat ini, yang sedang kita jalani ini ?
Hal itu dijelaskan dalam surat Al-Mulk, surat ke 67 ayat 2, Allah berfirman
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [٦٧:٢]
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, (agar) kamu lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Dari ayat tersebut kita menjadi paham dan harus menjadi kesadaran kita bahwa hidup kita saat ini sedang mengalami ujian, dan juga harus disadari semua bentuk ujian itu dari Allah. Sudah menjadi desain dan program dari Allah bahwa kita semua pasti akan mendapatkan ujian.
Kepada siapakah ujian itu diberikan ? Di sana bentuk kata-nya adalah "KUM" pada kata "Liyabluwakum" yang artinya "kamu semua" hai manusia, tidak ada yang tidak mengalami ujian, semua mendapatkan ujian dari Tuhan. Baik itu yang kafir atau yang beriman, baik itu yang kaya atau yang miskin, baik itu yang sedang berkuasa atau rakyat jelata, baik itu yang sedang berfoya-foya atau yang sedang menderita, baik itu orang Barat atau orang Timur, baik itu orang Arab atau orang Indonesia, baik itu ulama atau umat biasa, baik itu yang terkenal maupun yang biasa, bahkan ujian diberikan kepada para kekasih Allah, para nabi dan rasulNya.
Jadi kita jangan merasa kita-lah yang hanya mendapatkan ujian, semua sama mendapatkannya. Kita tidak sendirian dalam menghadapi ujian, walaupun bentuknya berbeda-beda tiap orang.
Lalu untuk apa Tujuan Bala / Ujian hidup itu ?
Allah jelaskan pula dalam surat Al-Mulk ayat 2 di atas bahwa Allah tegaskan kita diuji oleh Allah itu untuk selalu menjadi lebih baik, dengan bahasa Arab Quran di atas adalah "Ahsanu Amalan". Lebih baik amalnya, lebih baik akhlaqnya, lebih baik perbuatannya, lebih baik sikapnya, lebih baik solusinya, lebih baik kualitasnya, lebih baik kuantitasnya barangkali, lebih baik atau lebih cepat, lebih baik atau lebih tepat sasaran solusinya, dan seterusnya.
Sebagaimana ujian-ujian pada tingkat pendidikan yang telah atau sedang kita alami. Ujian-ujian itu dimaksud agar menguji kita sampai sebatas mana kualitas kita dalam bidang tertentu. Dan jika mendapatkan evaluasi atau hasil, maka akan dengan jelas mana yang sudah benar, sudah sesuai, dan mana yang masih salah, masih belum sesuai. Di kemudian hari, kita bisa perbaiki yang salah menjadi benar, yang belum sesuai menjadi sesuai. Tenang saja jika kita masih salah-salah, Allah Maha Pengampun atau Al-Ghafuur seperti yang disebut dalam ayat ini, asalkan kita tetap mau mengevaluasi dan memperbaiki. Dan terhadap perbuatan kita yang sudah benar akan semakin kokoh/konsisten dalam kebenarannya, diharapkan kita akan menjadi ahli dan profesional.
Sehingga semakin hari kita semakin berkualitas hidupnya sepanjang kita bisa lulus dalam tiap tahapan ujian yang kita lewati. Ujungnya jadilah kita menjadi ahli dalam kebaikan-kebaikan, menjadi pakar-pakar dalam kehidupan.
Lalu apa ganjarannya kalo kita bisa lulus dalam ujian-ujian tersebut ?
Dalam Surat Al-Kahfi, surat ke 18 ayat 30, Allah menjamin seperti yang dikatakanNya
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا [١٨:٣٠] أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا [١٨:٣١]
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan (lebih) baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah
Jadi bagi mereka yang selalu memperbaiki kualitas amalnya, perbuatan, akhlaqnya dan seterusnya, maka ganjarannya adalah surga bagi mereka. Karena itu bersegera saja, karena jika tidak dimulai sekarang utk memperbaikinya kapan lagi.. karena semua membutuhkan waktu yang panjang untuk perbaikan-perbaikan.
Lalu bagaimana bentuk ujian hidup / bala itu ?
Ujian Hidup itu bervariasi dan beragam, selama ini kita hanya mendengar kata "Ujian" berarti dikonotasikan dengan bencana, musibah, penderitaan, kesengsaraan dan sebagainya. Padahal ada ujian yang menyenangkan baik, ujian kemuliaan, ujian sanjungan, ujian kekayaan dsb, yang malah seringkali banyak manusia terlena dan terjerumus. Mari kita dengarkan apa kata Allah dlm Quran :
Dalam surat Al-Anbiya surat ke-21 ayat 35, dikatakan
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [٢١:٣٥]
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
Jadi akan diuji dengan keburukan dan kebaikan dalam pandangan kita.
Dalam surat al-a'raaf surat ke-7 ayat 168 dikatakan oleh Allah
وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [٧:١٦٨]
Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Kita akan diuji berupa yang baik-baik misal kenikmatan-kenikmatan dan juga yang buruk-buruk misalkan bencana, musibah dan sebagainya.
Lebih detil lagi kita lihat di ayat yang lain
Dalam surat al-baqarah, surat ke-2 ayat 155, Allah berkata
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [٢:١٥٥]
Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Pada ayat ini, dikatakan oleh Allah kita pasti, pasti dan pasti, sungguh, sungguh dan sungguh, (ditandai beberapa taukid /penguatan, diantaranya huruf lam taukid dan nun taukid tsaqilah, yg mengerti bahasa arab), sehingga dimaknai kesungguhan itu berlipat-lipat agar kita yakin bahwa ujian itu akan diberikan berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam berbagai sisi, dalam ayat ini dicontohkan kekurangan harta misal kemiskinan, terkena penipuan, perampokan, harta musnah, atau kekurangan jiwa misal kebodohan, sakit, lemah, cacat fisik, atau cacat mental barangkali, ditinggal selamanya oleh orang2 yang dicintai, dan seterusnya, kekurangan buah-buahan misal kekurangan pangan, kekurangan makanan dan sebagainya.
Tapi Allah berkata kemudian, sampaikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut. Bahwa dalam ujian yang walaupun penuh derita tersebut mengandung "kegembiraan" sesudahnya. Seperti yang telah kita bahas, kalo kita berhasil menjalani ujian demi ujian maka kita akan semakin ahli dan profesional. Itulah salah bentuk "kegembiraan", dengan menjadi ahli dan profesional maka segalanya akan terasa mudah kemudian.
Ada ujian yang lebih ekstrim lagi penderitaannya
Dalam surat al-a'raaf, surat ke-7 ayat 141, diceritakan Allah ...
وَإِذْ أَنجَيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۖ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ [٧:١٤١]
Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu ujian yang besar dari Tuhanmu".
Pada ayat tersebut diceritakan telah terjadi ujian yang sangat kejam dari Firaun kepada Bani Israil dahulu, sampai dibunuhnya anak-anak lelaki mereka bahkan sejak lahir, dan juga dibiarkan hidup, dipelihara untuk dieksploitasi wanita-wanitanya.
Allah mengakui itu ujian yang sangat besar, namun diharapkan kita menyadari bahwa ini ujian walaupun berat telah didesain oleh Allah. Kita hendaknya fokus kepada Allah, apa saja yang Allah perintahkan untuk kita dalam menghadapi ujian itu, dalam beberapa ayat di Quran, Musa untuk mengingatkan Firaun utk bertaqwa, utk mengabdi kepada Tuhan segalanya, lalu Firaun diminta untuk melepaskan Bani Israil. Jika Firaun tidak bisa diajak, maka Nabi Musa diperintahkan utk membawa bani Israil keluar dari kekejaman Firaun.
Jadi mereka seeharusnya bukan fokus kepada Firaun, menyerang Firaun dan seterusnya.
Ini merupakan contoh, salah satu bentuk ujian yang kita hadapi, adalah ujian dari kejahatan manusia lain, baik itu yang ringan atau yang berat, baik itu yang tertipu kelas teri sampai tertipu kelas kakap, baik itu sekedar cemoohan, nyinyiran atau bahkan siksaan, pembantaian. Nah kita diharapkan janganlah fokus pada orang yang merugikan, membenci atau menyerang kita, tapi fokuslah kpd Allah saja. Bagaimana bentuknya ? Misal kita ditipu, maka fokuslah pd Allah, bahwa harta yang kita telah direnggut itu adalah milik Allah, yang diambil melalui orang jahat itu. Semoga Engkau ya Allah memberikan yang lebih banyak dan lebih baik dari yang telah hilang dariku itu, Engkaulah yang Maha Kaya. Kita menjadi semangat kembali karena telah menyerahkan kepada Allah dan kemudian hari dia akan merasa Allah bersamanya dalam menghadapi ujian tersebut.
Lalu kita lihat bentuk ujian yang lain.
Dalam surat Al-Kahfi, surat ke-18 ayat 7, Allah berkata/berfirman
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [١٨:٧]
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka (agar) mereka yang lebih baik lagi perbuatannya.
Dikatakan Allah, bahwa bumi dan segala apa saja baik itu sumber-sumber daya alam atau sumber-sumber daya manusia yang terdapat di dalamnya adalah sebagai perhiasan.
Namanya perhiasan, pasti menyenangkan hati kita. Allah mengingatkan bahwa itu semua adalah bentuk lain dari ujian. Jangan sampai kita lengah, jangan sampai kita menghabiskan atau berkorban segalanya untuk mendapatkan "perhiasan-perhiasan" dalam tanda kutip itu. Perhiasan itu hendaknya kita jadikan "sarana" agar kita semakin berkualitas hidupnya, semakin baik amalannya, perbuatannya, tindakannya. Karena bukan 'perhiasan' itu yang membuat kita mulia, tapi diri kita dengan sikap kita yang baik seperti akhlaq yang mulia, amal yang sholeh, keahlian dan seterusnya yang menyebabkan kita mulia di pandangan Allah.
Sudah kita bahas, jika kita ingin hidup mulia di sisi Allah yang Maha Mulia silakan link ini.
Lagi lebih detail salah satu contoh ujian kenikmatan :
Dalam surat Al-Anfaal, surat ke-8 ayat 28 Allah mengatakan
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [٨:٢٨]
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Secara spesifik Allah kasih bentuk ujian lain berupa harta dan anak-anak. Bagi mereka yang mempunyai harta yang berlimpah sadarilah sejak awal bahwa harta adalah bentuk ujian Allah, hendaknya digunakan sesuai dengan perintah Allah di beberapa ayat lain, misal dibelanjakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan untuk orang-orang yang membutuhkannya. Jangan sampai kita terlena untuk menghabiskan harta sendiri, tidak mau berbagi.
Begitu juga dengan anak-anak. Mereka bagaikan mutiara-mutiara hati, penyejuk jiwa, sebagai perhiasan dunia. Namun jangan sampai justru kita menjerumuskan mereka dengan memanjakan mereka. Didiklah mereka seperti yang sudah Allah perintahkan dlm Quran.
Yang mengangkat derajat kita bukanlah harta dan anak-anak kita, itu semua adalah sekedar ujian. Yang mengangkat derajat kita melainkan amal, perbuatan, program kita terhadap harta dan anak-anak kita tersebut.
Dijelaskan dan dipertegas oleh Allah di ayat yang lain
Dalam surat Al-Fajr, surat ke-89 ayat 15-17 dikatakan.
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ [٨٩:١٥] وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ [٨٩:١٦] كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ [٨٩:١٧]
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,
Pada ayat-ayat ini Allah membantah bahwa jika kita diberi ujian kemuliaan dan kesenangan di dunia ini maka bukanlah Allah hendak memuliakan kita, melainkan itu sebuah ujian. Demikian juga sebaliknya jika kita dibatasi rezekinya, misalkan miskin, yatim, cacat atau sebagainya, itu bukanlah Allah hendak menghinakan kita, melainkan itu sebuah ujian.
Ditegaskan lagi dalam Surat Al-Hadid, surat ke-57 ayat 22-23, bahwa Allah berkata
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [٥٧:٢٢] لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ [٥٧:٢٣]
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
Jadi janganlah kita jika diberi ujian kesulitan maka kita bersedih dan janganlah pula jika diberi ujian kenikmatan kita terlalu gembira sampai lupa diri, lupa terhadap perintah-perintah Allah dalam memanfaatkan ujian kenikmatan tersebut.
Semua ujian apapun bentuknya sudah merupakan desain dari Allah sejak sebelum Allah ciptakan semuanya.
Kita bahas sekarang Ujian dan Kemudahan
Apakah Ujian itu semuanya sulit ? Sehingga manusia tidak mampu untuk menempuhnya ?
Allah berfirman dalam surat abasa, surat ke 80 ayat 18-22
مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ [٨٠:١٨] مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ [٨٠:١٩]
ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ [٨٠:٢٠] ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ [٨٠:٢١]
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنشَرَهُ [٨٠:٢٢]
Dari apakah Allah menciptakannya (manusia) ? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
Pada ayat ini kita perhatikan yang diberi tulisan berwarna merah, bahwa Allah sudah memudahkan jalan selama kita hidup di dunia ini, yang artinya jika hidup adalah ujian, maka ujian itu sebenarnya sudah dipermudah dalam pandangan Allah asal dengan syarat sesuai bunyi ayat tersebut adalah dengan mengikuti As-Sabiil/jalan tertentu, cara tertentu, caraNya Allah seperti bersabar, bersyukur dengan cara melihat anugerah-anugerah Allah yang selama ini tidak kita sadari sehingga kita bisa melewati ujian tersebut. Misal diberikan kita cacat penglihatan, ternyata pendengaran masih berfungsi normal, maka jika kita bersabar dengan menerima ujian tersebut lalu bersyukur menggunakan dengan optimal anugerah pendengarannya maka dia tetap bisa "melihat" dg tanda kutip seperti halnya kelelawar, buta tapi presisi dalam pergerakannya. Sudah banyak contohnya.
Adapun jika persepsi manusia yang menjalaninya bisa berbeda-beda, tapi yakinilah bahwa ujian ini telah dipermudah segalanya oleh Allah.
Jadi tidaklah perlu kita meminta kepada Allah agar dipermudah ujian kita, yang perlu kita upayakan adalah kita yakin bahwa memang sudah mudah ujian tersebut untuk kita. Kita tidak perlu memfokuskan kewenangan Allah masalah kemudahan tersebut, yang perlu kita fokuskan bagaimana menghadapi ujian dari Allah tersebut.
Lalu dalam surat Asy-Syarh surat ke 94 ayat 5 dan 6, Allah berkata
َإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا [٩٤:٥]
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا [٩٤:٦]
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Selain ujian-ujian hidup sudah dipermudah oleh Allah, dan tidak hanya itu, setelah ujian-ujian tersebut dilalui dengan kesabaran akan dijumpai berbagai kemudahan-kemudahan. Dalam ayat-ayat tersebut, al-'usr / kesulitan menggunakan alif-lam ma'rifah yang dimaksud kesulitan tunggal, satu kesulitan tersebut, tapi yusran/kemudahan menggunakan nakirah, yang artinya umum, bisa berarti yusran/kemudahan yang pertama bisa berbeda dengan yusrah/kemudahan yang disebut kedua. Jadi satu kesulitan itu bisa dikelilingi oleh minimal dua kemudahan, satu kesulitan bisa dikelilingi oleh banyak kemudahan.
Baik sekarang kita simpulkan dari pembahasan Hidup adalah Ujian/Bala
Yang pertama, bahwa tidak ada paham-paham ini dalam Al-Quran, jika tidak ada dalam Quran yang berkaitan dengan keyakinan atau ajaran, maka itu tidak benar adanya. Kalau kita meyakini Quran sebagai yang Haqq/Benar maka seharusnya pemahaman-pemahaman ini dihapus dari keyakinan kita.
1. Bala/Ujian itu buruk semua, isinya hanya penderitaan. Seringkali kita kalo mendengar kata "ujian" konotasinya buruk. Kita sudah bahas bahwa tidak demikian.
2. Bala/Ujian itu banyak sehingga melampaui kemampuan kita dalam menghadapi, ternyata tidak.
3. Minta dipermudah/diringankan. Tidak perlu meminta karena memang ujian-ujian itu sudah dipermudah namun dengan syarat mengikuti jalanNya, caraNya yaitu dengan bersabar dan bersyukur, sudah kita bahas.
4. Mulia jika mendapat Bala/Ujian yang baik/menyenangkan, ternyata salah. Allah tidak bermaksud seperti itu, itu sekedar ujian, penilaian mulia tergantung sikap kita terhadap ujian tersebut.
5. Hina jika mendapat Bala/Ujian yang buruk/penderitaan, ternyata salah juga. Hinanya seseorang di pandangan Allah bukanlah karena ujian kesempitan rezeki, ujian kesengsaraan yang sedang dia terima, tapi sikap dia terhadap ujian tersebut.
6. Bala/Ujian hanya untuk orang yang beriman, ini salah.
Berikutnya, adalah paham-paham inilah yang terdapat dalam Quran sehingga harusnya menjadi keyakinan kita, menjadi bagian dari keimanan kita sesuai dengan isi Quran.
1. Bala/Ujian itu Pasti. Karena itu untuk apa kita berdoa untuk Tolak Bala ? Tidak diajarkan oleh Allah, dan sudah dijelaskan Bala/Ujian adalah suatu program/desain dari Allah yang pasti dialami setiap manusia.
2. Bala/Ujian itu sedikit, dibanding dengan potensi dari anugerah yang dimiliki oleh kita. Sesulit apapun Bala/Ujian dibanding banyaknya potensi anugerah yang telah Allah berikan adalah masih lebih sedikit. Karena itu fokuslah dengan cara mulai membuka diri terhadap potensi-potensi yang telah dimiliki. Saat ini kita harus yakin musibah Covid19 adalah sedikit dibanding potensi yang Allah berikan pada manusia sebagai bangsa dan sebagai satu kemanusiaan. Mulailah kita bersyukur dengan cara memanfaatkan potensi-potensi yang belum kita sadari untuk menanggulangi ujian tersebut.
3. Bala/Ujian itu bisa berupa baik/kenikmatan atau Buruk/penderitaan. Jika ujiannya berupa kebaikan maka kita tidak merasa Tuhan telah memuliakan, kita tidak merasa telah selesai dari ujian, masih harus memikirkan untuk menyelesaikan ujian-ujian yang lain. Namun jika ujiannya berupa penderitaan kita tidak merasa Tuhan sedang menghina kita. Tidak, melainkan kita sadari bahwa ini ujian, kita ditempa ujian kesulitan untuk bisa mensyukuri anugerah-anugerah Allah yang selama ini tidak kita sadari.
4. Setiap Bala/Ujian itu sudah dimudahkan. Yakinkan selalu bahwa Bala/Ujian itu sudah dimudahkan, dan kita semua bisa melaluinya dengan kesabaran.
5. Setiap Bala/Ujian sesudahnyapun terdapat jalan-jalan kemudahan. Akan banyak anugerah-anugerah kemudahan setelah melewati ujian tersebut.
6. Bala/Ujian itu ditujukan untuk semua manusia. Tidak hanya kepada orang yang beriman, kepada yang kafir/ingkarpun diberikan ujian. Sehingga kita tidak merasa sendirian. Hendaknya kita bisa bersatu dalam menghadapi ujian bersama-sama.
Sekian sebagai kesimpulan. Mohon maaf jika ada kesalahan. Yang ingin berdiskusi silakan berkomentar di bawah ini.
Billahi taufiq wal hidayah. Wasssalamualaikum wrwb.
Hari-Hari Hidup Qurani (H3Q)