Jika kita dihadapkan atau dipertanyakan terus menerus keyakinan kita kpd Tuhan, masihkah akan terus bertahan ?
Misal, ketika kita berbuat jujur... lalu dihembus-hembuskan selalu, "kalau jadi orang jujur, seret rejekinya, buat laporan ga usah jujur-jujur amat, pengusaha yang sukses besar di sana umumnya tidak jujur, ada intrik-intriknya, mau untung berkali lipat kurangi saja takarannya, mau cepet kaya, tilep/korupsi dikit lah, kalo dititipin duit operasional, ambil dikitlah biar cepet selesai hutangmu, dan seterusnya."
Sedangkan ajakan Tuhan di dalam semua kitab yang pernah diturunkanNya, adalah mengajak dan menyeru manusia untuk selalu berbuat jujur di setiap kondisi.
Nah, Nabi Ibrahim atau Abraham sudah memberikan teladan yg luar biasa, tervisualisasi dalam film "His Only Son", memegang teguh prinsip dan janji Tuhan, walau godaan dunia yang tergambar dalam kata-kata Sarah, terus mengusiknya. Dijanjikan Tuhan tanah, namun tanah yang didapat adalah tanah yang gersang, tandus, penuh kelaparan dimana-mana, kenapa tidak ke Mesir saja yang subur ?
Dijanjikan Tuhan akan beranak pinak sehingga melahirkan bangsa-bangsa besar di dunia ini, kerajaan-kerajaan, namun Sarahnya sendiri mandul, jangankan bangsa, anakpun belum terwujud.
Bagaimana dengan kita jika dihadapkan dalam kondisi seperti itu ?
Masih berpegang kuatkah akan ajakan dan janji Tuhan ?
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia".
QS Al-Baqarah [2]:124