Perdebatan film "His Only Son", kebanyakan orang karena merasa beda versi, yg ngaku beragama Islam, bahwa yang akan disembelih adalah Nabi Ismail, dan yg ngaku beragama Kristen, Katolik bahwa yang akan dikurbankan adalah Nabi Ishaq.
Kalau bagi saya, menonton film tersebut bukan melihat siapa versi yang lebih benar di atas. Tapi kebetulan sekali sejalan dengan momen hidup yang sedang dialami, berkaitan dengan kepasrahan pada kehendak Tuhan.
Kan biasanya begitu ya, kalo sedang sedih maka seolah seluruh isi dunia jadi ikutan sedih, kalo kita sedang bahagia seolah seluruh isi dunia ikut bahagia.
Kembali ke konteks kehidupan yg sedang mengalami ujian, siapapun sedang diberi ujian, dan bahwa semua yang terjadi dan akan terjadi adalah kehendakNya, seberapa besar penerimaan kita akan kenyataan yang terjadi, tidak hanya itu seberapa yakin juga kepada janji-janji Tuhan yang akan terjadi. Nabi Ibrahim atau Abraham atau Abram mengajarkan teladan seperti itu.
Beliau di film itu betul-betul mengajarkan secara visual mengenai arti keyakinan pada janji-janji Tuhan. Sejak muda, beliau sudah yakin dengan perkataan-perkataan atau janji-janji Tuhan walau dalam kenyataan yang dialami beliau di luar fakta, seperti dijanjikan tanah, dijanjikan keturunan, tapi fakta yang dihadapinya bertahun-tahun adalah tanah yang tandus, kering kerontang, kelaparan dimana-mana, padahal di Mesir ada tanah yang subur, kenapa tidak kesana, kata istrinya, Sarah.
Dijanjikan oleh Tuhan, bahwa akan lahir bangsa-bangsa menempati dunia ini, sedangkan fakta yang dihadapi beliau adalah, Sarah, istrinya, mandul, bertahun-tahun tidak memiliki seorang anak, jangankan bangsa, keturunan saja tidak.
Nah disinilah letak keistimewaan Nabi Ibrahim atau Abraham, beliau walau dihadapkan dengan fakta-fakta di lapangan seperti itu, seolah jauh dari panggang dari isi janji Tuhan, tapi beliau tetap yakin akan janji-janji Tuhan.
Dan setelah puluhan tahun, akhirnya Sarah yang mandul melahirkan seorang putra yang akan melahirkan keturunan bangsa-bangsa saat ini, bahkan sebagian besar nabi berasal dari Nabi Ishaq, yang lahir dari rahimnya Sarah. "Benarlah janji Tuhan", begitu ucap Sarah kemudian, terharu biru saya menontonnya.
Refleksi kepada kehidupan nyata kita sehari-hari. Memang Tuhan tidak berbicara langsung kepada kita, sebagaimana Nabi Ibrahim atau Abraham alami.
Tuhan berbicara kepada kita melalui fenomena-fenomena di sekeliling kita, baik itu hukum alam, hukum sosial dst. Kita sebenarnya menyadari akan sinyal-sinyal Tuhan tersebut, dan janji Tuhan adalah bersabar dalam menghadapi semua itu. Dan milikilah keyakinan seperti halnya tingginya keyakinan Nabi Ibrahim atau Abraham akan janji dari Tuhan, suatu saat akan terwujud dan tercipta untuk hamba-hambaNya yang mau bersabar, menerima.
Salah satu kutipan dari ustad yg pernah saya baca, "Biarkanlah dirimu menjadi jalan menuju terwujudnya kehendak Tuhan." Nabi Ibrahim atau Abraham sudah memberikan teladan itu, menjadi jalan bagi kehendak Tuhan yaitu salah satunya melahirkan sebagian bangsa-bangsa di dunia ini.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [١٦:١٢٠]
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [١٦:١٢١]
(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
QS An-Nahl [16]:120-121