بسْمِ اللهِ الْوَاسِعِ الْعلِيْمِ
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِيْ اُحِيَ اِلَيْكَ اِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ .اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ . كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ اَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى .
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu ( اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ ) Yang menciptakan ( الَّذِيْ خَلَقَ ), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ( اِقْرَاْ ), dan Rabb-mulah Yang Maha Pemurah ( وَ رَبُّكَ اْلاَكْرَمُ ),
Yang mengajar (manusia) ( الَّذِيْ عَلَّمَ ) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ( اِنَّ اْلاِنْساَنَ لَيَطْغَى ), karena dia melihat dirinya serba cukup ( اَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى ). ( Qs. 96 : 1 s/d 7 )
PENGAJARAN ( مَوْعِظَةٌ ) yang dapat ditarik, diantaranya,
1. Peristiwa turunnya wahyu pertama, merupakan penetapan/pelantikan/wisuda Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi/Rasul saw.
2. Menjadi Nabi/Rasul, harus didukung dengan “ kemampuan dan keterampilan membaca “
3. “ Membaca “ memang aktivitas manusia yang sangat penting lagi terus-menerus dilakukan, layaknya kegiatan “ BERNAFAS “
4. “Membaca” kegiatan/aktivitas manusia yang secara terus menerus dilakukan, kecuali sedang “ tidur “.
5. Yang demikian mengisyaratkan bahwa “ membaca “ adalah tanda “ terjaga atau bahkan hidup “, sedangkan “ tidak membaca “ tanda “ tidur atau mati “.
6. “ Tidak hidup atau tertidur atau mati “ orang yang “ tidak membaca “,
7. Orang yang “ terjaga atau hidup “ adalah orang yang yang selalu “ membaca “,
8. “ Membaca “ yang diajarkan sebagai dinyatakan dalam wahyu pertama, adalah,
a. Membaca dengan Asma Rabb-mu ( اِقْرَأْ بِاسمْ رَبِّكَ ),
1) membaca dengan Asma Rabb, mengisyaratkan bahwa membaca harus dengan Al-Qur’an ( bukan hanya membaca al-Qur’an ), karena Rabb-mu, Allah swt memperkenalkan Asma-Nya hanya dalam Al-Qur’an,
2) membaca dengan “ Asma Rabb “, sebagaimana dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, bukan hanya “ Ar-Rahman Ar-Rahim ( الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ ), sebagaimana selalu kita lakukan selama ini; atau tegasnya, bukan hanya Asma Ar-Rahman Ar-Rahim ( الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ ) sebagai dinyatakan dalam Qs. 1 : 1, 3 )
3) di dalam al-Qur’an terdapat 57 kata Ar-Rahman ( الرّ حَْمَانُ ) tapi 5 kali Asma Ar-Rahman Ar-Rahim ( الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ ), misalnya pada Qs. 27:30; Qs.41:2 dan Qs. 59:22
4) Asma Rabb-mu juga bukan hanya Ar-Rahman Ar-Rahim ( الرَّحْمَانُ الرّحِيْمُ ), tapi ada lain, misalnya : Wasi’un ‘Alim ( وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ) sebanyak 7 kali; Al-‘Aziz Al-Hakim ( العَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ) sebanyak 48 kali; Ghafur Rahim ( غَفُورٌ رَّحِيْمٌ ) sebanyak 66 kali; dan seterusnya.
b. Membaca dengan Asma Rabb-mu yang … ( اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِي ), misalnya ;
1) membaca dengan Asma Allah yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu (الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ ), Qs. 36 : 83
2) membaca dengan Asma Allah yang menurunkan air dari langit ( بِا الَّذِي اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً ... ), Qs. 6 : 99
3) membaca dengan Asma Allah yang membentuk kamu dalam rahim .. (الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِي اْلاَرْحَامِ ... ), Qs. 3 : 6
c. Membaca dengan Asma Rabb-mu ( misalnya ) yang menciptakan ( اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ), diantaranya,
1) membaca dengan Asma Allah ( Dia ) yang menciptakan apa yang ada di bumi untukmu … (الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلاَرْضِ جَمِيْعًا ... ), Qs. 2 : 29
2) membaca dengan Asma Allah ( Dia ) yang menciptakan semesta langit dan bumi dengan benar … (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلاَرْضَ بِالْحَقِّ ... ), Qs.6:73
dan seterusnya; yang tentunya, kesemuanya, akan sangat berbeda hasilnya dengan “ membaca dengan Asma Ar-Rahman Ar-Rahim “, yang selama ini kita lakukan, tanpa mengacu Asma yang mana yang telah dinyatakan dalam al-Qur’an.
9. “ membaca “ dalam menyambut perintah membaca dalam Qs. 96 : 1, bila “ melaksanakan perintah itu adalah bertakwa “, maka sesungguhnya “ membaca “ itu adalah kegiatan “ bertakwa “, jadi,
a. “ membaca “ dalam rangka melaksanakan perintah “ membaca pada Qs. 96 : 1, adalah “ bertakwa “; jadi sesungguhnya dengan Perintah pada Qs. 96 : 1, Allah swt. hendak memfasilitasi kepada kita untuk “ bertakwa “ dengan “ Perintah yang Sederhana dan Ringan “ untuk dilaksanakan.
b. maka, tiada membaca tanpa bertakwa, dan tiada bertakwa tanpa membaca
c. bahwa “ membaca “ adalah aktivitas manusia yang terus menerus dilakukan selama terjaga, kecuali tidur, maka dengan demikian begitu juga halnya dengan “ bertakwa “; bertakwa juga kegiatan yang terus menerus-menerus dilakukan, kecuali sedang tidur
d. Yang demikian itu mengisyaratkan bahwa “ yang tidak bertakwa bearti tidur atau bahkan mati “; sedangkan “ yang bertakwa “ bearti selalu terjaga atau hidup
e. Bila demikian, dapat dinyatakan dengan ungkapan “tiada hidup tanpa takwa, dan tiada takwa tanpa hidup”
f. Bila membaca harus dengan Asma Rabb-mu, maka dengan demikian takwa juga harus dengan Asma Rabb-mu
10. Perintah membaca pada Qs. 96 : 1, 3, tidak disebutkan tentang “ obyek baca ( OB ) “, mengisyaratkan bahwa apa saja yang akan menjadi OB, harus dibaca sebagaimana diajarkan pada Qs. 96 : 1
11. Tidak disebutkannya OB pada ayat tersebut, karena sesungguhnya pada OB itu, ( فَثَمَّ ) hanya satu sebagaimana dapat dipahami dari Qs. 2 : 115, yaitu “ Wajah Allah ( وَجْهُ اللهِ ) “.
12. Bahwa “ membaca “ dalam rangka memenuhi perintah Qs. 96:1, adalah “ bertakwa “; dan bahwa kemampuan dan keterampilan “ membaca “ adalah amat sangat penting untuk mendukung tugas ke-nabian/ke-rasulan, maka sesungguhnya “ pembinaan dan pengajaran agama/al-Qur’an, harus diutamakan untuk menghasilkan kemampuan/keterampilan membaca “
13. Pembinaan/Pengajaran agama, sejak lahir sampai ajal datang, harus diutamakan untuk menghasilkan kemampuan/keterampilan membaca “; “ membaca dengan Asma Rabb/Allah “, atau “ membaca dengan Al-Qur’an “
14. Mulai sekarang, Majelis yang harus dihidupkan/digiatkan adalah “ Majelis Mengaji/Mengkaji dengan Al-Qur’an “ bukan ( hanya ) “ Mengaji al-Qur’an “; “ Majelis Membaca dengan al-Qur’an “, bukan ( hanya ) “ Majelis Membaca al-Qur’an “
15. “ Membaca adalah Bertakwa “, pertanda hidup atau terjaga atau sadar, sedangkan “ tidak membaca adalah tidak bertakwa “ pertanda “ tidur atau mati “
Simak dan RENUNGKAN AYAT BERIKUT INI,
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" ( Qs. 62 : 8 ).
Memperhatikan/menghisab “ apa yang kita kerjakan “ selama “1 bulan/minggu” terakhir ini, bila “kematian menemui kita”, HARI INI, kemungkinannya “ SIAPAKAH KITA “ ini…. ???
ANDAI SAJA PARA ULAMA SELALU MEMBACA “OB” DAN MENGAJARKAN UMMAT UNTUK SELALU MEMBACA “ DENGAN ASMA RAAB “, NISCAYA TIDAK ADA “ BOM-BOM-AN “ DINTARA SESAMA MUSLIM SEPERTI YANG TERJADI SEKARANG.
اِنْ ضَلَلْتُ فَاِنَّمَا اَضِلُّ عَلَى نَفْسِى وَ اِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي اِلَيَّ رَبِّي
اِنَّهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ ( 50 : 34 )
وَ اِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَ لِقَومِكَ وَ سَوْفَ تُسْئَلُونَ
Jakarta, 16 AGUSTUS 2015 / 1 DZUL QAIDAH 1346 H
PROGRAM PENGAMALAN AL-QUR’AN ( PPQ )
alm. muhammad munhari jufri ( mmj )
( عَسَى اللهُ اَنْ يَرْحَمِهُ وَ يَغْفِرَ لَهُ )