Sebelum masuk ke pembahasan kata-kata Quran, penulis beri contoh satu kata serapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia mengalami penyusutan makna, di nomor 1 berikut ini :
1. Kata serapan seperti kata "Al-Jadwal" artinya tabel (apapun), tapi kata "jadwal" di bahasa Indonesia bukanlah tabel apapun, melainkan tabel yang ada korelasinya dengan waktu. Bulan "Muharram", setelah masuk ke bahasa Indonesia, menjadi hanya bulan pertama tahun hijriyah, padahal bulan Rajab termasuk bulan Muharram, begitu pula bulan Dzul Qi'dah adalah bulan Muharram, dan bulan Dzul Hijjah.
Aslinya, bulan pertama hijriyah adalah bulan Al-Muharram dan memang termasuk pula bulan Muharram.
Kata "ibadah" dalam Quran bermakna segala bentuk pengabdian manusia yg berupa amal / perbuatan apapun, termasuk bekerja, namun kata "ibadah" menjadi hanya yang merupakan ritual, spt sholat, puasa, haji, shadaqah, infaq, wudhu, tayammum dan sejenisnya. Seharusnya tidak ada seorang yg beragama Islam lebih mementingkan ibadah ritual dibanding bekerja atau sebaliknya, semuanya seimbang karena sama-sama ibadah.
2. Penyusutan Makna "Kitab suci untuk"
Quran diturunkan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia, QS 2:185.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda " QS Al Baqarah [2]:185.
Jadi Quran adalah "kitab suci" umat manusia, baik itu umat Nasrani, Yahudi, dan yg lainnya, tidak sebatas umat yang mengaku beragama Islam saja spt pemahaman selama ini.
3. Mengalami Downgrade Posisi "Al-Islam".
Posisi Al-Islam sesungguhnya adalah :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
"Sesungguhnya Ad-Diin disisi Allah hanyalah Al-Islam." QS Ali Imran [3]:19
Ayat diatas sangat syarat makna, bahwa Ad-Diin yang berupa Al-Islam hanyalah di sisi "Allah" (semuanya menggunakan kata mufrad/tunggal dan definitif, Ad-Diin, Al-Islam dan Allah), jadi bukan di sisi siapapun.
Maknanya jika kita masih mengaku berIslam itu belum tentu sama dg Al-Islam, kita tidak boleh merasa paling benar. Upaya kita harus terus menerus menyesuaikan dengan Al-Islam, upaya pemenuhan itulah yg dinamakan "'Aamalush Shaalihat / (upaya yang comply)". Dan itu yang akan dinilai kelak di "Yaum Ad-Diin" untuk dilakukan penilaian antara upaya kesesuaian tersebut dengan Ad-Diin / Al-Islam.
Sementara untuk kepentingan administrasi negara, kita membutuhkan data identitas diantaranya adalah pengisian kolom agama, dan kita isi adalah Islam sebagai agama kita. Itu bentuk salah satu upaya pemenuhan 'Taat pada Ulil Amri'. Namun jangan sampai maknanya Al-Islam ter-downgrade menjadi agama yang disetarakan dengan agama-agama yang lain. Padahal Al-Islam itu berada di sisi Allah yang Maha Tinggi dari apapun (termasuk pendefinisian agama oleh manusia) dan Maha Tinggi dari siapapun.
Fenomena Posisi Al-Islam saat ini :
Contoh makna Al-Islam terdowngrade seperti sebuah pernyataan orang-orang yang beragama di luar Islam adalah kaafir. Padahal yang bisa menentukan apakah iman dan amalannya itu sesuai/comply hanyalah Allah, lalu mengapa manusia berani membuat judgement bahwa orang-orang yang beragama di luar Islam adalah kafir. Jika demikian maka kita telah melakukan double downgrade, yaitu downgrade terhadap makna "Al-Islam" dan juga "Kaafir".
Karena Al-Islam di sisi Allah, bukan di sisi manusia, maka siapapun manusia tidak bisa menilai manusia yang lain sebagai Muslim ataukah Kafir. Para Nabi tidak berani mengklaim diri mereka sebagai Muslim atau Shalih ketika masa hidupnya, karena itu mereka berdoa kepada Allah untuk digolongkan ke dalam Muslimiin, Shalihiin, QS 2:128. Mereka menyadari bahwa hanya Allah-lah yg berhak memberikan penilaian itu.
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimas salaam) MUSLIM kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." QS Al Baqarah [2]:128
Contoh downgrade lebih ke bawah lagi adalah klaim bahwa satu-satunya yang dinamakan Islam adalah Islamnya Sunni, Islamnya Syiah atau Islamnya Salafi oleh para pengikutnya masing-masing yang sangat fanatik.
Karena Al-Islam di sisi Allah, bukan di sisi manusia, artinya pula Al-Islam bukanlah klaim dari kelompok manapun atau diidentikkan dengan negara manapun, seperti Islam Arab, Islam Salafi/Wahabi, Islam Sunni/Ahlus Sunnah wal Jamaah/Aswaja, Islam Syiah, Islam Nusantara, Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam Liberal, Islam Tarbiyah, dan Islam-islam yang lain. Silakan saja untuk memilihnya, anggap saja itu adalah upaya-upaya manusia dalam memahami Al-Islam versi mereka sendiri. Namun jika ada yang tidak mau mengakui atau ikut salah satu daripadanya atau berbeda dengan yang lainnya, tidak boleh menudingnya "keluar dari Islam", karena Al-Islam bukanlah di sisi kelompok2 manusia tersebut, karena hakikat Al-Islam hanyalah di sisi Allah yang artinya hanya Allah-lah yang tahu kesesuaian ajaran2 kelompok2 Islam tersebut dengan Al-Islam.
Kalau pemahaman saya, jika menemukan beberapa ajaran dari kelompok2 Islam tersebut yang sesuai/sejalan dengan Al-Islam / Al-Quran, maka kita bisa mengambilnya. Tidak hanya dari kelompok2 Islam tapi juga dari kelompok manusia yang lain walaupun berbeda pandangan/agama/mindset, dan sebagainya. Allah sudah memberikan semua parameter untuk penilaiannya di Al Quran yang nama lainnya adalah Al-Islam.
Wallahu a'lam.
---
Hari-Hari Hidup Qurani (H3Q)